Jakarta, 31 Oktober 2025 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan tajam hingga menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Kamis (25/9/2025). Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar yang signifikan akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang nasional.
Data Refinitiv mencatat rupiah melemah ke level Rp16.735 di pasar spot pukul 12.07 WIB. Namun, sejumlah bank asing seperti MUFG dan HSBC menetapkan harga jual dolar AS melebihi Rp17.000, dengan MUFG memasang hingga Rp17.025 per dolar AS. Kondisi ini mengindikasikan volatilitas yang cukup tinggi dan tekanan jual yang berat di pasar valuta asing domestik.
Pelemahan rupiah ini dipicu oleh ketegangan perdagangan global, khususnya konflik tarif antara AS dan China yang masih memantik ketidakpastian ekonomi dunia. Sentimen negatif ini mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga menguatkan dolar dan menekan rupiah.
Kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat juga turut memperburuk kondisi. The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi dan menegaskan tidak berniat menurunkannya dalam waktu dekat. Kebijakan ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga melemahkan nilai tukar rupiah.
Secara domestik, pelemahan rupiah diperparah oleh defisit neraca perdagangan yang melebar akibat tingginya impor energi dan bahan baku, dengan harga minyak dunia yang melonjak ke kisaran USD 90-95 per barel. Lonjakan biaya impor menyebabkan inflasi naik dan memaksa Bank Indonesia menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan pasar.
Ketidakpastian politik dan risiko geopolitik global juga menjadi faktor penghambat sentimen positif terhadap rupiah. Harga komoditas yang volatil dan ancaman ketegangan di wilayah Timur Tengah menambah beban pasar pada mata uang domestik.
Dampak makroekonomi dari pelemahan ini terlihat pada kenaikan harga barang impor, terutama energi dan bahan baku industri, yang ikut mempercepat laju inflasi. Inflasi inti meningkat, menekan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia bersama otoritas terkait terus memantau situasi dengan seksama dan siap melakukan berbagai intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar dan investor disarankan tetap waspada menghadapi dinamika global dan domestik yang masih penuh ketidakpastian.
sumber dari : Rupiah Ambruk, Dolar AS Tembus Rp 17.000 Dolar Singapura Rp 13.000




