Mata uang dollar Amerika Serikat terus mengalami kenaikan secara signifikan. Mengutip dari CNBC Indonesia, indeks dollar mengalami penguatan sejak 14 Juli 2023. Saat itu indeks dolar berada di angka 99,91, sedangkan per 6 September berada di posisi 104,83 atau naik hampir 5% dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.
Pada 26 Oktober, CNBC Indonesia mencatat rupiah berada pada level Rp15.800/US$. Apa penyebabnya dan apa dampaknya bagi mata uang rupiah dan kehidupan masyarakat Indonesia?
Penyebab Dollar Naik
Penguatan indeks dollar terjadi di tengah kenaikan inflasi AS pada Juli 2023, yang tercatat mengalami kenaikan menjadi 3,2% year on year, meningkat dari periode sebelumnya yaitu 3%.
Pada bulan Juli pun, Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 5,25%–5,50%.
Angka ini adalah yang tertinggi selama lebih dari 22 tahun dan ditargetkan bisa melawan inflasi ke angka 2%. Dengan suku bunga yang tinggi, investor memilih untuk membeli aset aman dengan daya tarik tinggi, seperti dolar AS dan surat utang (obligasi) AS.
Dengan ketidakpastian global, tingkat inflasi dan suku bunga tinggi di berbagai negara, cadangan devisa mengalami kenaikan. Cadangan devisa diperlukan untuk membiayai ketidakseimbangan neraca pembayaran hingga menjaga kestabilan nilai tukar mata uang suatu negara.
Sebenarnya ada beberapa mata uang yang dalam cadangan devisa diakui oleh banyak negara dan berlaku secara internasional, seperti dollar AS, euro, yen, dan pound sterling. Namun, dollar AS masih mendominasi cadangan devisa global dengan porsi sebesar 59,02%.
Tingginya harga minyak dunia juga menjadi faktor lain yang membuat dollar AS semakin meningkat, serta berdampak ke laju inflasi AS ke depannya. Kekhawatiran berlebihan dari para pelaku pasar keuangan dan melebarnya defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) juga turut menjadi faktor lainnya.
SUMBER DARI : berita.com



