Jakarta, 24 Oktober 2025 — Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis (23/10) tercatat melemah 35 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.620 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp16.585 per dolar AS. Pelemahan ini merupakan respons pasar terhadap ketidakpastian menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan diumumkan Jumat (24/10).
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen menjadi faktor penahan pelemahan rupiah agar tidak semakin signifikan. “Dampak kebijakan BI terlihat dalam mengendalikan volatilitas rupiah dengan intervensi pasar yang aktif dan dukungan penyaluran devisa dari eksportir,” ujarnya.
Dalam rapat Dewan Gubernur BI bulan Oktober, BI juga mempertahankan suku bunga deposito di level 3,75 persen serta suku bunga lending facility tetap 5,5 persen. Dari sisi makroekonomi, proyeksi inflasi Indonesia periode 2025–2026 berada dalam target 2,5 persen plus-minus 1 persen, memberikan ruang pelonggaran moneter. Namun, stabilitas nilai tukar dinilai prioritas utama dalam menghadapi ketidakpastian global.
Secara mikroekonomi, transmisi penurunan suku bunga ke sektor perbankan masih berlangsung lambat. Meskipun BI-Rate sudah turun 150 basis poin sejak September 2024, suku bunga deposito satu bulan masih di 4,52 persen, dan suku bunga kredit agregat di 9,05 persen pada September 2025. Kondisi ini terutama disebabkan tingginya porsi deposito berimbal hasil khusus untuk nasabah besar.
Untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter, BI memperkenalkan insentif Likuiditas Makroprudensial berbasis kinerja yang mulai efektif 1 Desember 2025. Skema ini memberikan ruang insentif likuiditas hingga 5,5 persen dari dana pihak ketiga, terutama untuk percepatan kredit sektor pertanian, industri hilirisasi, ekonomi kreatif, perumahan, UMKM, dan pembiayaan hijau. Langkah ini diharapkan menurunkan harga kredit secara bertahap tanpa mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.
Aktivitas transaksi di money changer Jakarta relatif stabil walau rupiah cenderung melemah, dengan harga jual beli dolar AS di kisaran Rp16.600 sampai Rp16.700. Para pelaku pasar terus mencermati data ekonomi global dan kebijakan handal BI dalam menjaga stabilitas moneter guna menghadapi fluktuasi pasar valuta asing.
Kebijakan BI yang seimbang ini menegaskan fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memberikan ruang penguatan bertahap dengan volatilitas terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
sumber dari : https://bali.antaranews.com/berita/392201/pelemahan-rupiah-tertahan-seiring-bi-rate-tetap-di-level-475-persen




