
Jakarta, 19 Maret 2020 — Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) menembus angka Rp 16.070 di money changer wilayah Tamansari, Jakarta Barat. Angka ini menunjukkan pelemahan signifikan Rupiah yang terdorong oleh tekanan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 yang sedang merebak.
Money changer di Tamansari melaporkan lonjakan transaksi penukaran mata uang asing yang deras dari masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran publik terhadap ketidakpastian ekonomi sehingga ramai melakukan konversi aset ke Dollar AS sebagai bentuk aman dari gejolak pasar.
Sementara itu, di pasar perbankan, nilai tukar Dollar AS terhadap Rupiah di beberapa bank besar seperti BCA dan Mandiri berkisar antara Rp 15.835 hingga Rp 16.245 pada tanggal yang sama. Pelemahan Rupiah ini tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan investor global melakukan flight to quality dengan menukarkan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah ke Dollar AS.
Para ahli ekonomi menyebutkan bahwa kenaikan jumlah kasus Covid-19 secara global berkontribusi pada tekanan depresiasi Rupiah hingga 0,02% per kenaikan 1% kasus baru. Selain itu, pandemi memberi dampak pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan melemahnya sektor aktivitas ekonomi domestik yang turut memperburuk posisi rupiah.
Bank Indonesia dan pemerintah telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, antara lain memangkas suku bunga acuan, memberikan fasilitas likuiditas kepada perbankan, serta menjalin kerja sama swap valuta asing dengan beberapa negara seperti AS dan Tiongkok guna menjaga kestabilan nilai tukar.
Fenomena pelemahan Rupiah ini menjadi cermin dampak luas dari Covid-19 tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tapi juga pada perekonomian nasional dan global. Situasi ini menjadi tantangan bagi otoritas moneter untuk menavigasi stabilitas ekonomi dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi.



