JAKARTA, investor.id — Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/10/2025). Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas pernyataan sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang mengisyaratkan potensi penundaan penurunan suku bunga acuan, serta ketidakpastian akibat ancaman shutdown atau penutupan sementara pemerintah AS.
Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10.36 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah turun 28 poin atau 0,17% ke posisi Rp16.591 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat naik 0,30% ke level 98,01, menandakan penguatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sempat dibuka menguat tipis 1 poin (0,01%) di level Rp16.562 per dolar AS, setelah pada penutupan Jumat (3/10/2025) berhasil menguat 43 poin ke posisi Rp16.555 per dolar AS. Namun, sentimen global yang memburuk mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
⸻
Sentimen The Fed dan Shutdown AS Membayangi Pasar
Pelemahan rupiah tidak terlepas dari pernyataan beberapa pejabat The Fed yang menegaskan komitmen untuk tetap menjaga kebijakan moneter ketat dalam waktu lebih lama, guna memastikan inflasi benar-benar terkendali. Pernyataan tersebut memicu ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga tidak akan dilakukan dalam waktu dekat, sehingga mendukung penguatan dolar AS di pasar global.
Selain itu, ancaman shutdown atau penutupan sementara sebagian lembaga pemerintah AS karena belum disepakatinya anggaran federal juga menambah ketidakpastian pasar. Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai dampak dari potensi shutdown tersebut terhadap perekonomian nasional akan bersifat terbatas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, situasi politik di AS memang dapat menimbulkan gangguan sementara terhadap aktivitas negosiasi perdagangan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat.
“Dampaknya jelas, terkait dengan perundingan dagang kan dengan shutdown ya berhenti dulu,” ujar Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Senin (6/10/2025).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa dampak terhadap keseluruhan proses negosiasi tidak akan signifikan. “Saya rasa enggak, enggak banyak pengaruh. Relatif kita sudah selesai itu,” imbuhnya.
⸻
Negosiasi Tarif Resiprokal Masih Berlanjut
Sebagai catatan, pemerintah Indonesia saat ini masih melakukan pembahasan lanjutan terkait penerapan tarif resiprokal dari AS terhadap produk ekspor Indonesia. Melalui skema ini, Indonesia dikenakan tarif bea masuk sebesar 19%, atau lebih rendah dibandingkan tarif awal sebesar 32%.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS, terutama untuk sektor manufaktur, tekstil, dan hasil pertanian. Pemerintah optimistis negosiasi ini akan memberikan hasil positif bagi hubungan dagang kedua negara, sekaligus memperkuat neraca perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.
⸻
Pengamat: Dampak Shutdown AS ke Rupiah Bersifat Terbatas
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah pada awal pekan ini masih dalam kisaran wajar. Menurutnya, pelaku pasar sejauh ini cenderung mengabaikan dampak langsung dari potensi shutdown pemerintah AS, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa penutupan tersebut hanya berdampak sementara terhadap pasar keuangan global.
“Pasar lebih fokus pada data ketenagakerjaan swasta minggu ini, terutama karena data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) untuk bulan September tampaknya tertunda akibat penutupan pemerintah,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (3/10/2025).
Ia menambahkan, jika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan, maka peluang The Fed untuk menurunkan suku bunga pada kuartal IV tahun ini bisa kembali terbuka, yang berpotensi memperkuat rupiah dalam jangka pendek.
⸻
Prospek Rupiah ke Depan
Meski rupiah sempat tertekan, sejumlah analis memperkirakan mata uang Garuda masih berpotensi menguat secara bertahap apabila tekanan eksternal mereda. Stabilitas fundamental ekonomi domestik, cadangan devisa yang cukup tinggi, serta arus investasi asing yang mulai meningkat dinilai akan menjadi faktor penopang utama.
Namun demikian, pelaku pasar diimbau tetap waspada terhadap perkembangan global, terutama kebijakan moneter The Fed, dinamika harga komoditas, dan pergerakan indeks dolar AS.
“Rupiah memang masih sensitif terhadap sentimen global, tetapi selama inflasi domestik terkendali dan Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur, pelemahan tidak akan berlarut-larut,” ujar Ibrahim.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.550 hingga Rp16.620 per dolar AS sepanjang pekan ini.



